Fashion Bakal Mendominasi Industri Kreatif Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, industri kreatif terutama bidang retailer dan fashion terus menunjukkan perkembangan yang sangat memuaskan di Indonesia. Khususnya bidang fashion terus tumbuh dan melahirkan pengusaha muda yang handal. Hal ini menjadi pertanda baik bagi kebangkitan perekonomian Indonesia.

Kabar baiknya, industri fashion kreatif ini pada umumnya didominasi oleh orang muda usia 18-35 tahun. Bidang ini tidak hanya menyerap banyak tenaga kerja, tetapi juga secara sistematik dan berkelanjutan meningkatkan perekonomian Indonesia.

baju-tradisional-indonesia

Sektor ekonomi kreatif terdiri dari 15 sub-sektor yang memberikan kontribusi nilai tambah atau added value. Bidang ini meliputi arsitektur, desain, fashion, film dan video, game, komputer, kerajinan, musik, dan pasar seni, penerbitan, perangkat lunak, iklan, seni pertunjukan, televisi dan radio.

Dari 15 subsektor, jajaran kuliner tetap menduduki peringkat pertama dengan prestasi yang berkontribusi besar dengan lingkup sebesar 33%. Di subsektor kuliner, ada sub-sektor (fashion) yang memberikan efek kontribusi sebesar 27%. Kedua bidang ini mendominasi 13 sub-sektor lainnya. Hal ini terjadi dalam kondisi serupa terjadi dalam 5 tahun terakhir.

Diramalkan bahwa tahun ini juga bidang fashion tetap akan memimpin di deretan utama penyumbang angka pendapatan di atas. Pasalnya, cukup banyak industri fashion lokal yang berekspansi untuk mendapatkan popularitas di luar negeri. Kita bisa melihat contohnya, industri jilbab Indonesia yang semakin populer di luar negeri. Misalnya, konsep busana jilbab dipromosikan oleh Dian Pelangi misalnya, bisa masuk sampai ke mancanegara. Bahkan Dian telah berulang kali menunjukkan desain fashion jilbab di pusat dunia, Paris, Prancis.

 

Menurut Dian, orang-orang kreatif harus berani menunjukkan keberanian menjual ide mereka. “Awalnya pada saat saya memulai usaha ini, saya juga sering diremehkan, karena usaha ini saya lanjutkan dari usaha orang tua pada usia 18,” kata pemilik nama Dian Wahyu Utami beberapa waktu. Dian menciptakan tren warna baru yang mengakibatkan produk jilbabnya mendapat tempat di pasaran.

Salah seorang artis yang juga terjun ke bidang usaha ini, Zaskia Adya Mecca juga turut serta merasakan kesuksesan bidang usaha tenun rangrang ini. Dia berhasil me-launching merek busana muslim Meccasism yang mentargetkan remaja putri muda di perkotaan. Produknya mulai medapat tempat di hati para konsumen di beberapa kota di Indonesia. Menurutnya keberhasilan produknya karean desain inti yang dibuat adalah nyaman tapi masih Syari.

baju-tradisional-indonesia
baju-tradisional-indonesia

Menariknya, Mecca merasa mendapat support yang sangat berarti dari suami dan partnernya. Selain itu dia berjanji untuk membayar utang kepada upaya mendorong menambah keunggulan usahanya dengan bekerja keras. Seperti yang diharapkan Zaskia sekarang mempekerjakan banyak orang untuk membantu usahanya. “Ibu yang menggunakan yang sama tergantung pada suaminya, bukan karena mereka punya pekerjaan, menjadi agen saya. Dan ketika kisah mereka bisa mendapatkan uang tambahan benar-benar bahagia,” katanya.

Kisah sukses lain juga dialami Anne Avanti. Wanita Semarang yang pada awalnya benar-benar tidak bisa memotong kain untuk pola kemeja. Tapi malah pola kebaya asimetris lah yang justru benar-benar mengantarkannya ke gerbang kesuksesan. Beliau bercerita pada awalnya ibunya yang mengajarkan cara menjahit. Kemudian dia mengembangkan sendiri dengan cara trial and error, sampai akhirnya dia mendapat gaya sendiri yang kelak menjadi trade-mark produknya.